Phenomenal Engineer

Phenomenal Engineer
| Sabtu, 05 November 2011
Senin, 3 oktober 2011. 04.30 WIB
Pagi yang cerah di awal bulan Oktober namun sedikit mendung, mendung karena belum tidur semalaman itambah mendung membayangkan bagaimana nantinya jika saya bakal di Rias. Ya! di Rias. Namun semua tak sekejam yang dibayangkan. Wajah yang dasarnya ganteng masih tetap ganteng. #dilemparpenonton #eh pembaca

Ya, dengan alasan didaulat oleh kedinasan untuk menyambut tamu penting yaitu istri orang nomor satu di Indonesia dalam acara Peringatan Hari Batik Nasional bertajuk "Batik, Seribu Tahun Lagi". Tamu itu tak lain dan tak bukan Ibu Hj. Ani Yudhoyono beserta jajaran dan tamu penting lainnnya.

Tiba dilokasi dengan pengamanan sangat ketat dan hening. Menurut saya seperti panitia menyiapkan acara Hari Kemerdekaan. Hikmat dan Malu. Malu karena pertama kalinya berjalan dengan bangga bagaikan para model di panggung catwalk. Ah.. Rasanya waktu bergerak lambat kala itu.

Mendapat berita bahwa Ibu Negara bersama rombongan, kami para penyambut mulai bersiap menempatkan diri di pintu gerbang yang dilengkapi metal detector dan sepanjang jalan digelar karpet merah bak jalur selebriti ketika menerima award di hollywood. Panas tak menyulutkan niat kami karena sungguh suatu kebanggaan untuk menyambut istri orang nomor satu di negeri ini walaupun berbagai isu politik negatif gencar beredar menenggelamkan partai berlambang segitiga dengan berwarna dasar biru tua itu. Sementara, hal itu lepas dari benak saya. "Ini hanya tujuan apresiasi dude, tetap dengan jalani dengan tanggung jawab dan professional", pikir saya positif dalam hati.

Dengan harap-harap cemas namun tetap tegar setia menunggu, padahal dalam hati memikirkan segarnya es teh ketika langsung di tenggak di hari sepanas itu. TULITTULITTULIT. Sontak suara sirene mobil penetral jalan membuyarkan pemikiran anehku. Tanda bahwa Ibu Negara dan rombongan akan segera datang. Beberapa unit bus berlabel executive class terlihat beriringan dan para istri menteri dengan berlambai-lambai sembari memasang senyum paling manis di bibir mereka, semoga bukan senyum palsu.

Di deretan terakhir mulai terlihat sedan mewah berlambang lingkaran dengan garis saling terhubung cirikhas mobil eropa berplat nomor RI 1. Keluarlah sosok yang dinanti, dengan penuh wibawa Ibu Presiden berjalan dan menyalami penuh keramahan para penyambut. Termasuk saya, hanya berjarak sekitar 20inch dari senyum wibawanya. FYI, senyum dengan gigi tak terlihat namun sangat menunjukkan arti senyum itu sendiri, sangat sulit ditiru.

Blablabla..... berlangsung beberapa sambutan dan diskusi yang entah berujung solusi atau tidak.
Akhirnya tiba waktunya untuk menikmati galeri yang sudah dipamerkan dan tidak gratis tentunya. Pemandangan yang ironis sekaligus paradoks. Mencengangkan yang menyedihkan tetapi sekaligus menguntungkan.
Para istri-istri pejabat tak memandang seberapa mahalnya kain batik yang mereka belanjakan, bertebaran uang merah bergambar presiden Soekarno dalam tiap-tiap transaksinya.
Ironis, diluar sana masih banyak fakir miskin dan anak terlantar yang kelaparan, bahkan masih meminta di pinggir jalan dan perempatan lampu merah, mereka malah dengan mudahnya mengeluarkan sesuatu hanya demi sekedar GENGSI. What the f! with that!

Diluar semua itu, BATIK tetap harus hidup seribu tahun lagi! dan berharap tanpa ada asimilasi tangan-tangan dan pemikiran negatif didalamnya.
lalu KORUPSI? Harus MUSNAH saat ini juga.

"Aku ingin melihat batik Indonesia hidup sampai seribu tahun lagi" 
- Ibu Any Yudhoyono

Semoga bukan hanya tulisan tapi juga pelaksanaan nyata. Oleh semua pihak dan lapisan masyarakat.
HIDUP BATIK INDONESIA!

1 komentar:

{ farah adiba } at: 18 November 2011 pukul 17.58 mengatakan...

jangan lupa yaak mas duta wisata,follow blog saya .....hihihi

Posting Komentar

 

Copyright © 2010 WAKE UP AND SEE