Phenomenal Engineer

Phenomenal Engineer

AMDAL, Semoga Bukan Hanya Kajian yang Ditinggal

| Rabu, 16 November 2011
Kemarin, Selasa 15 November 2011 bisa gue tetapin sebagai hari mengarang bebas se-UTS Fakultas Teknik Unissula 2011. Salah gue sih memang, hanya berbekal informasi soal ujian tahun kemarin yang menunjukkan orientasi “Open Book” dengan mudahnya gue mengambil kesimpulan bahwa ujian kali ini juga bakal menggunakan orientasi yang sama. Alhasil, cari materi pun hanya  J-1, ya 1 jam sebelum ujian dimulai.

Gue menyadari bahwa imajinasi merupakan dasar atau latar belakang dari wujud nyata. Seperti halnya penemuan adalah hasil nyata dari pemikiran. Namun, gue belum sehebat itu, dompet atau hp yang nyelesep entah dimana aja kadang masih sulit gue temuin, solusinya biasanya perlu di missed call dulu. Tanda bahwa bersuara itu akan lebih didengar daripada hanya diam. YA IYALAH!

Seperti halnya kota dan segala bentuk tata ruangnya, apa yang tampak di kota beserta tata ruangnya, beserta baliho-balihonya, yang kadang hanya foto politikus, adalah gambaran dari pelaksana pemerintahannya.

Ketika bencana sering melanda maka tandanya bahwa tidak ada keselarasan antara kemajuan pembangunan dan aspek kelestarian lingkungan. Lalu, apa pembangunan ga boleh berjalan? Boleh.. asal...
Yak hal ini yang membuat gue ingin mempelajari lebih lanjut materi kuliah gue yang notabene justru setelah ujian. Semoga ga dibilang mahasiswa yang aneh.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau AMDAL adalah sebuah kajian yang seharusnya menselaraskan antara pembangunan dan lingkungan, terutama yang erat kaitannya dengan makhluk hidup, malah justru dijadikan sebuah formalitas bukan prioritas.
Teringat kata seorang dosen, “yang penting kamu tahu dulu, walaupun soal pelaksanaannya, entah. Kamu yang harusnya memulai perubahan”.

Ternyata benar kan, di luar sana, di era pembangunan, justru terjadi benturan, bukan keselarasan antara pembangunan proyek dan kepentingan melestarikan kualitas lingkungan. Semua bercampur aduk ketika soal uang, Undang-Undang ditinggalkan. Terlebih lagi banyak kawasan lindung dijadikan kawasan budidaya, dan kawasan budidaya makin padat. Alhasil terjadilah impact yang imbasnya juga pada kerugian.

 Kok bisa gini? Kemana air bakal mengalir?

 Anak-anakpun merenungi imbas negatifnya. Mau sampai kapan?

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2010 WAKE UP AND SEE