Phenomenal Engineer

Phenomenal Engineer

Kita Seperti LDR dengan Bangsa Sendiri

| Rabu, 26 Juni 2013


“My faith in humanity restored”.

Kalimat itu yang terlintas saat saya sedang buru-buru lalu naik tukang ojek-gondrong-bertato yang kalau di film-film dia pantasnya jadi musuh bertelanjang dada yang kepalanya bisa berasep musuhnya pendekar  yang naik elang.

Waktu itu saya naik ojek yang lumayan jauh dari kantor, dan karena sedikit gerimis dan waktu ngantor pertama harus membuat kesan baik dengan datang sepagi mungkin maka siapapun tukang ojeknya saya naik aja. Akhirnya dapatlah si mas-mas gondrong bertato itu yang saya kira bakal nyasarin atau muter dulu dengan jarak terjauh biar argonya mahal. Laaah...

Tapi seperti biasanya, seperti orang2 mainstream kebanyakan bahwa prasangka hanyalah prasangka. Pas sampai di kantor dan mau saya bayar si tukang ojek justru gak punya kembalian dan dengan senyum yang 180 derajat seremnya dibanding tatonya, dia malah mengikhlaskan dan mau cabut aja. 

Saya gak rela, saya merengek sambil  injek-injek tanah, terus saya tarik-tarik lengan bajunya yang rada kucel itu . Eh! Salah, gak pake acara beginian.

“nanti saya beliin pulsa aja ya, pak”. Itu yang saya bilang sembari mengacungkan handphone buat membiarkan dia menuliskan nomornya.

“iya pak, terima kasih banyak pak”. Sahutnya dengan senyum riang tapi palsu. Hehe asli ding.
Yah, sedikit kesan awal yang baik di kota yang katanya penuh debu polusi ini

Sebenarnya banyak kebaikan-kebaikan atau rasa kemanusiaan dalam kehidupan seperti kernet bus kota ekonomi yang masih mau mengembalikan uang yang kelebihan, orang yang baru kenal yang mau mengantar kita yang belum tahu ke tempat tujuan, nenek tua penjual nasi yang mau menggratiskan orang-orang jalanan yang kelaparan, bapak penjual mainan yang mau memberikan barang dagangannya pada anak kecil yang merengek yang orang tuanya tidak punya uang, senior-senior bersahaja di kantor yang tak pernah merasa bahwa ‘dia sudah lama maka dia yang berkuasa’, pacar yang bisa menerima apa adanya bagaimanapun masa lalu kita (oke, ini curhat ya :D) dan masiiiiiiiih banyaaaaaak lagiiiiiiiiiiiii... yang  terkadang terpinggirkan oleh kenegatifan yang di-blowup besar-besaran oleh media.

Orang-orang pun sudah mulai tidak malu untuk melakukan hal-hal yang memalukan seperti yang tadi pagi saya dengar sewaktu minum teh dan makan cemilan-cemilan ringan sebelum memulai pekerjaan bahwa ada teman kantor yang suaminya sempat mergokin seorang Polisi yang mau disuap secara terang-terangan, juga ada pula teman kantor yang pernah mendapati seorang dosen dari universitas ternama di Indonesia sedang blak-blakan jual beli nilai di salah satu Coffee Shop di salah satu mall di Jakarta... Aih! Hukum dan pendidikan seperti tercoreng....

Kita sama bangsa sendiri jadi seperti sedang menjalin hubungan LDR dimana yang bisa kita lakukan hanya percaya, berprasangka baik, dan memulai kebaikan dari diri sendiri.

Kesimpulannya ya kembali lagi bahwa di dunia ini pasti ada buruk jika ada baik, pasti ada rendah jika ada tinggi, pasti ada yang malas jika ada yang sukses, pasti pula ada kelemahan jika ada potensi. Masalahnya, sudah fokus pada yang manakah kita?
 
 

Copyright © 2010 WAKE UP AND SEE