Phenomenal Engineer

Phenomenal Engineer
Tampilkan postingan dengan label Insight. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Insight. Tampilkan semua postingan

Rakyat adalah Mereka yang Tidak Mengaku Rakyat

| Kamis, 20 November 2014


Menjelang dua hari setelah ketok palu keputusan kenaikan BBM, seperti biasa terjadi pro dan kontra atas nama rakyat. Berbagai tindakan sinisme yang berujung otot-ototan antar kedua kubu pendukung pemenang dan ‘pecundang’ di pemilu presiden, beberapa kekerasan dan pembakaran di berbagai daerah, sampai aksi telanjang yang untuk melihat (walaupun dibayarpun) gue enggan.

Beberapa aksi kebodohan dan kekerasan yang gue sesalkan adalah mereka yang melakukannya atas nama rakyat namun malah menimbulkan beberapa kekacauan.

Sebenarnya apa sih definisi ‘rakyat’? Mereka yang dengan gagah bawa motor sport namun  langsung teriak, ramai-ramai berdemo, menyalahkan kebijakan dan mengaku tidak mampu jika terjadi beberapa kenaikan? Orang-orang yang ngakunya berpendidikan tapi dengan bodohnya melakukan berbagai tindakan pembakaran? Orang-orang berdasi dan rok span di atas lutut? Atau tukang nasi kucing? polisi cepek? Atau banci pengamen yang ternyata punya salon? Atau masih banyak lagi sepertinya.

Satu tahun gue bekerja membangun desa di sebuah sudut terpencil di sebuah Kota yang adem dan damai di Jawa Tengah dimana senyum dan kekeluargaan adalah hal yang murah, lalu  melakukan perjalanan dari ujung Jawa bagian Barat sampai ujung Lombok, dari ujung anyer sampai pedalaman Sade, dari pelosok desa yang jika malam tiba hanya beberapa lampu minyak yang menyala, sampai di pinggiran kota yang hanya kokok ayam penanda waktu subuh yang meredakan hingar-bingarnya . 

Banyak pelajaran dari berbagai perjalanan, seperti ada pepatah mengatakan “jalan-jalanlah, maka akan kamu lihat dunia bercerita”. Itu pepatah gue. Hehe

Gue menemukan definisi ‘rakyat’ yang sebenarnya dari perjalanan. Rakyat yang sebenarnya adalah mereka yang bertani, yang tak terasa tak mengeluh akan pecah-pecah kakinya karena jauhnya berjalan dari gubug ke ladang; mereka yang menenun, yang tak pernah berkata ‘fiuh’ ketika kaki sudah lelah mengayun; para manula yang masih menjual makanan, mainan, alat2 perabotan, berkeliling dari satu angkutan ke angkutan, mereka warga desa yang pasrah saja apapun kebijakan pemerintahan. Rakyat yang sebenarnya adalah mereka yang tidak mengaku rakyat, yang begitu sangat percaya dengan pejabat-pejabat yang menjanjikan daulat. 

Namun, apakah masih ada beberapa tikus-tikus berdasi yang karena kepentingannya, rela mengorbankan harapan ‘rakyat’? Tega.

Apakah masih ada beberapa yang masih meminta, memiskinkan diri, berteriak seakan sebuah kebijakan adalah akhir dunia? Tidak bersyukur.

Kebijakan sudah dibuat, tinggal pembuktian benarkah ada ketulusan dari mereka para pembuat? Juga kesadaran dari kita sebagai pencentang pelaksanaan janji-janji atas nama rakyat.

 Masyarakat Desa, Masyarakat Kota, mari wujudkan satu senyuman yang menyenangkan

Hari Libur Tetap Bersyukur

| Minggu, 18 November 2012

Sudahkah kamu bersyukur hari ini?

Baru saja atau bahkan seringkali saya melihat linimasa Twitter yang berisi keluhan; justru bukan ucapan syukur atas nikmat yang didapatkan. Contohnya hari libur panjang minggu ini, banyak dari mereka yang memaknainya hanya dengan potongan-potongan kalimat "aah! Hari libur gak ngapa-ngapain!!", "duh! Hari libur kurang lama", "duh! Hari libur belum ada pacaaaar!"... LHOO! oke! Dan seterusnya!

Setiap habis hari libur pasti akan datang hari kerja. Seperti kita sedang duduk di ruang tengah rumah lalu berjalan menuju jendela terdekat untuk kita buka. Kualitas kegiatan yang kita rasakan saat kita 'duduk' akan berbanding lurus dengan perasaan bahagia saat kita 'membuka jendela'. Jika kamu masih mengeluhkan sesuatu setelah 'membuka jendela', jangan-jangan posisi kamu 'duduk' pun kurang mengenakkan. Jadi, sesebentar apapun hari liburmu tetapi jika kamu bersyukur dan menganggap semua menyenangkan, sedikitpun kamu gak akan berat hati untuk kembali memasuki hari kerja.

Seperti saat ini, saya sedang terduduk, saya mensyukuri kebahagiaan-kebahagiaan beberapa hari kemarin, juga meyakini untuk kehebatan-kehebatan hari esok. Nikmat sekali; Tuhan saya Maha Hebat.
Tuhan Maha Hebat, hebat membawa saya yang dulu menjadi saya yang seperti sekarang, juga akan lebih hebat lagi suatu hari. Sekarang, saya memang belum bisa memberi banyak, tapi saya masih belajar dan terus belajar agar kelak bisa banyak memberi. 

Saya ingat ada beberapa mimpi-mimpi yang saya tuliskan ketika dulu training ESQ sebelum UAN SMA. Mimpi-mimpi itu adalah bahwa saya ingin menjadi:
1) Seorang ayah yang sayang keluarga;
2) Seorang manusia yang berguna bagi manusia lainnya;
3) Seorang insinyur yang fenomenal;
Seingat saya, dulu pernah menuliskan 5, tapi hanya 3 yang saya ingat dengan jelas. Sisanya saya tulis pada saat ini.
4) Seorang developer yang berperan dalam pembangunan dan cinta lingkungan;
5) Seorang direktur yang mampu mengarahkan banyak orang, bukan menyalahkan.

Tuhan benar-benar Maha Hebat, kan? Iya, asal kita percaya.
Lihat saja, saya dulu menulis keinginan nomor 1, kemudian Tuhan menganugerahi saya sebuah keluarga yang penuh kasih sayang, memberi banyak pelajaran dari tiap belaian. Karena semua berawal dari keluarga, itu semua akan saya bawa kelak ketika berkeluarga. Saya menulis nomor 2, kemudian Tuhan memberi saya kemampuan untuk cepat belajar, menganugerahi saya teman-teman yang luar biasa, membuat saya mengerti arti saling mengisi dan melengkapi. Saya menulis nomor 3, bahkan sebelum saya tahu saya mau masuk jurusan apa di Perguruan Tinggi. Sekarang, saya telah dianugerahi gelar Sarjana Teknik. Ya, seorang insinyur, kawan!


Saya percaya bahwa keajaiban dari berani bermimpi adalah adanya hal-hal menakjubkan yang Dia tunjukkan dalam perjalananmu menggapainya. Saya hanya tinggal percaya, Tuhan akan mengerjakan sisanya; mimpi nomor 4 dan 5.

Bersemangatlah! Yang bekerja, sudah ditunggu penerapan ilmu dan penyerapan tenaganya untuk negara. Yang sekolah, sudah ditunggu beribu-ribu ilmu untuk nantinya diterapkan.

Jadi, sekarang jangan kebanyakan 'duduk', bisa bikin encok sama pegel-pegel katanya. Hehe.


Pertama Kali, Kini, dan Mimpi untuk Nanti.

| Rabu, 15 Agustus 2012


Segala sesuatu yang pertama kali itu identik dengan sesuatu yang kita cari sendiri cara untuk menjalaninya. Seperti halnya sekolah pertama kali, pacaran pertama kali, kuliah pertama kali, atau bahkan apa saja hal-hal yang kita lakukan pertama kali. Ternyata dari semua itu, kita semua punya yang namanya ‘naluri’, untuk melakukan sesuatu yang memang baru pertama kali lalu menuliskan adaptasi dan menyimpannya dalam memori otak kita. Intinya yang pertama kali itu bikin bingung. Makanya saya memilih bercerita sejak pertama kali kuliah hingga saat ini di sini daripada terlalu memusingkan laporan Tugas Akhir tentang metode pertama kali di Indonesia.

Sejak dulu pertama kali menginjak bangku kuliah hingga sekarang sudah mau menginjak mimbar wisudawan, sebenarnya sudah banyak cerita, suka, dan duka tertoreh. Ada banyak nilai-nilai ilmu hingga nilai persahabatan. Mulai dari saya yang belum mengenal apa itu teknik sipil hingga sebentar lagi dituntut tanggung jawabnya untuk menerapkan ilmunya kepada masyarakat sipil.

Ngomong-ngomong soal perkuliahan anak Teknik sipil, sebenarnya bisa dibilang susah-susah tapi mudah, dan tetap semua tergantung pada niat dan motivasi diri masing-masing. Buktinya, sudah ada teman-teman saya yang tumbang perihal kesetiaan, kesetiaan pada fakultas dengan alasan macam-macam. Saya juga tak yakin mereka adalah orang yang setia juga pada pasangannya. Hahaha.

Kuliah di jurusan teknik sipil itu emang banyak yang bilang jurusan paling sulit dari semua jurusan, mulai dari tugas kecil hingga tugas besarnya. Tugas besar adalah tugas yang wajib dikerjakan dan menjadi beban di tiap semesternya. Semua bidang teknik sipil mulai dari transportasi, struktur, sumber daya air, hingga manajemen proyek semuanya tercakup dalam tugas besar tersebut. Tugas besar ini mungkin yang menjadi hal paling berat, yang walaupun dijalani sebenarnya sih aman terkendali aja. *naikin kerah*

Saya merenung dan saya menyadari, sebenarnya masih sedikit ilmu yang saya dapatkan dibanding lamanya masa perkuliahan. Tapi keinginan untuk sukseslah yang membuat saya ingin tetap belajar. Keinginan untuk bekerja sebelum membuka lahan pekerjaan, insya Allah. Keinginan untuk merealisasikan mimpi. Mimpi bekerja di perusahaan kontraktor ternama walaupun sebenarnya lapangan kerja bagi lulusan teknik sipil sangat luas. Mimpi untuk menjadi kaya lalu mengayakan Indonesia. Mimpi untuk bisa membantu siapapun orang yang membutuhkan. Mimpi yang dibangun bersama kawan sejati, kawan seperjuangan dalam Kerja Praktek. Kawan yang rela menyamarkan namanya demi sebuah kehadiran asistensi, kawan yang rela mengucurkan keringatnya walau bukan demi nama kelompoknya, kawan yang benar-benar bisa disebut kawan. Namun, dia telah lebih dulu dipanggil Tuhan. Kami yakin, kamu pasti kelak ditempatkan di Surga-nya kawan. 

Di sini, di kampus ini banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang tersematkan, juga bermacam-macam karakter orang. Saya jadi mengerti tentang pentingnya kebersamaan, sebuah kebersamaan yang jika kita punya uang kita bantu mereka yang kekurangan, begitu sebaliknya. Sebuah kebersamaan yang membuat kita tak pernah merasa kekurangan, sungguh. Sebuah kebersamaan yang jika demi tugas salah satu begadang, maka yang lain juga demikian. Sebuah kebersamaan yang indah, dan keren. Saya bersyukur punya teman-teman yang begitu loyal, begitu setia kawan, begitu peka terhadap sesama, begitu tak bisa diam berpangku tangan jika yang lain butuh bantuan. Mereka pasti kelak adalah sosok-sosok yang akan saya rindukan, saat kita semua sudah berkeluarga dengan anugerah anak-anak yang lucu yang akan jadi penerus kaya dan tawa kami juga.

Sekarang, yang menjadi keinginan terdekat kami mungkin hanya satu. Angkatan 2008 menjadi para wisudawan dan wisudawati angkatan ke-64. Doa dan usaha siang malam yang sedang kami kerjakan. Semoga hal itu akan menjadi pohon bagi buah yang paling manis, yaitu wisuda pada waktunya. Amien ya Robbal alamiin.

Pecundang Pecandu Kecepatan

| Rabu, 25 April 2012
Polisi terus merazia aktivitas geng motor.
Tulisan yang gue baca dari ‘headline’ sebuah berita malam ini di salah satu televisi nasional, yang tercetak agak besar dan tebal dengan huruf Times New Roman di bagian layar paling bawah. Beritanya juga berisi video-video penggambaran aksi geng motor, yang sebenarnya juga aksi konyol menyusuri tiap jengkal jalan dengan kedok adu kecepatan. Selain itu, mereka juga sudah cukup terkenal melalui aksi-aksi brutal di supermarket mini yang terekam di CCTV. Mungkin mereka orang yang bodoh, namun sok brutal biar terlihat sangar. Buktinya otak di tempurung kepala mereka tak pernah memunculkan pemikiran bahwa mending mereka muncul di situs luar negeri pengunduh video berlabel ‘Youtube’, dengan kemampuan menyanyi atau bela diri, daripada dengan sensasi brutal seperti ini.

Bukan prestasi lagi yang mereka torehkan dibalik riuh rantah perjalanan negeri ini dari kebobrokan. Mereka hanya menambahkan daftar panjang macam-macam tindak kejahatan yang makin lama justru membuat rakyat negeri ini memberi hujatan. Selayaknya para pemain sinetron berjilid yang bikin dahi para penontonnya mengeryit, tanpa sebuah konklusi positif atau sebuah antiklimaks yang membahagiakan tanpa jeda iklan, mereka berhasil mempermainkan emosi kami, yang menontonnya melalui berita. Sejak pagi kami bangun dari mimpi yang merupakan bunga tidur, hingga malam kami akan melanjutkan mimpi. Gue rasa, mungkin tayangan berita itu semacam sinetron bergenre baru berkedok penyampaian informasi. Hanya tayangan-tayangan olahraga kala pagi, dengan ‘background’ musik rock agresi, yang cukup memotivasi tanpa kata basi. Do you always think that bad news is good news, huh?

Gue sempet juga berpikir bahwa kenapa tak diboikot saja berita yang memberitakan tentang kebobrokan, kekacauan, yang mungkin dilebih-lebihkan? Kenapa lembaga sensor tidak merambah juga ke jalur pemberitaan yang kini mulai meregenerasi menjadi jalur pempropagandaan, daripada tetap berjalan di tempat, menyeleksi film horor tak layak tonton yang akhirnya tertonton juga? Karena berita-lah yang membentuk moral dan paradigma pemirsanya, yang menonton tiap mereka bangun dan akan tidur. Segala tindak kejahatan dari perampokan, pembunuhan, sampai pemerkosaan dibawah umur sudah menjadi menu sehari-hari. Sudah begitu bobroknya kah negeri yang kita tinggali ini?

Kembali soal geng motor, yang seolah-olah mereka mulai semakin berani. Mengambil habis semua jenis kejahatan untuk mereka lakukan. Kasus terbaru menerangkan bahwa hanya karena diingatkan ketika mereka sedang liar balapan, naluri sok sangar mereka tidak terima hingga akhirnya berakhir pahit dengan pembunuhan. Lalu, di kelompok lain mulai tak terima dan melakukan perbuatan serupa, walaupun entah kata salah seorang dari mereka niat awal mereka berkata untuk tidak sampai ke hal keji seperti itu.

Coba kita bertanya ketika mereka sedang sendirian, sedang nyaman mengendarai kendaraan kesayangan, apakah mental keberaniannya akan sama ketika mereka berramai-ramai? Gue rasa tidak, mungkin mereka justru seperti anak kecil cengeng yang tak lucu yang selalu berlindung di ketiak ibunya. Dan justru sering menangis jika diledek teman-temannya. Mereka tak ubahnya seorang pecundang yang berkedok sebagai pecandu kecepatan biar terkesan sangar. Mereka tak menyadari bahwa nyawa dan kenyamanan begitu berharga, bila dibandingkan perasaan luar biasa ketika membuat kericuhan dan menggeber gas hingga terbang melayang.

Negeri ini bukan komedi, bro!
Gue hanya berharap akan ada pengganti kenegatifan mereka dan bermunculan banyak lagi para geng motor baik yang cinta lingkungan, yang rela mengalah ketika ada yang lebih tua menyeberang, dan tak segan untuk cium tangan orang tua yang telah membesarkan mereka.
Lalu, untuk media pemberitaan yang sering memperkenalkan sepak terjang mereka dan kejahatan lainnya di pagi buta, siang, hingga tengah malam. Ubahlah ‘tagline’ kalian dalam bekerja menjadi ‘NO BAD NEWS, IS GOOD NEWS’. Sounds better, huh? 



Bukan Hanya Momen Bersalaman dengan Rektor

| Senin, 23 April 2012
Pagi kemarin, bertepatan dengan wisuda ke-63 dan hari pertama ujian di kampus, bisa dibilang pagi yang cukup panas. Panas dalam arti sebenarnya, juga panas pusing memikirkan jawaban ujian yang sedang dihadapan. Sejenak pikiran melayang membayangkan suasana wisuda yang kebetulan juga sedang dilaksanakan di kampus tercinta. Dimulai sejak masuk gerbang, pengamanan sudah berlipat ganda dari hari biasanya. Berjejer pula mobil-mobil dari berbagai jenis, mulai sedan dengan isi silinder kecil, sedan mewah yang diharuskan memakai Pertamax, sampai minibus dan bus, yang membawa iring-iringan keluarga dari sang wisudawan maupun wisudawati. Dari papan baliho sudah terlihat berbagai MMT ucapan selamat bagi wisudawan, dan juga berbagai propaganda iklan yang terpasang. Tiap fakultas juga sudah menyiapkan diri masing-masing untuk menyambut putra-putri terbaiknya nanti di wisuda fakultas.

Di sisi lain, para wisudawan wisudawati juga mempersiapkan fisik, mental, juga dandanan. Para laki-laki membeli kostum kemeja putih berbawahan celana kain hitam dilengkapi dengan ikatan dasi yang entah dengan ikatan sendiri atau bukan. Lalu, para perempuan yang mau tak mau harus bangun sebelum subuh untuk dirias dulu agar pacarnya yang ngedampingin nanti pangling, atau justru dengan motif lain, entahlah. Dibalik itu entah juga atas motif apa mereka sudah ingin didaulat menjadi wisudawan dan wisudawati. Apakah mereka sudah terlalu 'tua' untuk merengkuh bangku kuliah, atau memang IPKnya sudah sangat dahsyat berbanding terbalik dengan kemampuannya di masyarakat, atau memang sudah tepat pada waktunya, atau apalah. Ah, gue terlalu sinis saja kali ini. Karena apapun pilihan mereka, gue tak pernah punya hak untuk menghakimi.

Bisa dibayangin sebenarnya wisuda hanyalah sebuah 'ceremony' wajib setelah lulus dari sidang skripsi dilengkapi dengan ujian pendadaran. Sebelum itu, para wisudawan dan wisudawati juga dibekali dengan beberapa pandangan tentang kehidupan dalam masyarakat setelah kita benar-benar menjadi wisudawan atau wisudawati nanti. Di sisi negatif juga berupa peluang untuk menambah pengangguran. Karena banyak statistik yang menunjukkan bahwa ada indikasi tidak sebandingnya jumlah lapangan kerja dengan para pencari kerja. Ya, jumlah pengangguran begitu bejibun. Nantinya, gue hanya mau jadi salah satu orang baik yang bisa mempekerjakan mereka dengan insentif yang layak, dan bukan menjadi bagian dari salah satu mereka. (Amien ya Allah).

Kemarin, gue teringat perkataan teman yang baru aja ngikutin 'ceremony' tersebut.
"Nanti jalanin aja, wisuda itu nyenengin."
"Nyenengin capeknya dari pagi sampai siang, menunggu antriannya, salaman sama rektor terus difoto, lain-lain deh, pokoknya."
Beberapa pertanyaan besar maha dahsyat mulai berlari-lari, memutari labirin-labirin otak yang tak tahu ujungnya dimana bakal berhenti. (Ah, ini sepertinya lebai).
Lalu benarkah hanya seperti itu pemaknaan tentang hajat besar sebuah pengukuhan dengan dana jutaan, hanya untuk momen bersalaman dengan rektor? Benarkah wisuda hanya sekedar 'ceremony' pembentuk gelar? Atau ajang pembuktian bahwa kita punya pendamping yang cantik atau ganteng yang menggandeng kita erat dalam momen-momen pengukuhan? (Lagi-lagi pemikiran saya kejauhan ya.)
Oke, tapi selamat ya buat temen-temen yang udah tersemat gelarnya, selamat berkarya. Karena wisuda adalah bukan hanya momen untuk bersalaman dengan rektor, tetapi juga 'link' untuk menuju hebatnya persaingan di dunia luar.

Lalu disamping itu, ada lagi seorang senior tepat satu diatas angkatan gue yang bilang, "Udah gak usah mikir kerja dulu, kamu cukup belajar buat bikin IPK tinggi dan sedikit kemampuan sosialisasi dan komunikasi agar kita bisa berbaur di dunia luar, karena persaingan sangatlah kejam". Secara otomatis, hal ini juga menghancurkan jargon-jargon di kampus yang seolah menyiratkan bahwa ada semacam ungkapan "berorganisasilah sebanyak-banyaknya di kampus, maka itu akan membantu kerjamu". Kesimpulan yang gue ambil adalah kita bisa dalam artian handal dalam berorganisasi namun IPK kita tak mumpuni, itu juga masalah. Karena IPK adalah 'link' untuk mendapatkan akses ke manajer HRD, walaupun entah ada konspirasi apa yang membentuk paradigma-paradigma HRD bahwa mereka seolah-olah luar biasa. Cih!
Intinya kita tak dilarang untuk bersosialisasi dan berorganisasi, tetapi tetap tak melepas tanggung jawab kita terhadap orang tua bahwa kita tetap harus lulus tepat waktu dan dengan nilai yang bisa membuat senyum mereka mengembang. Indah kan ngebayanginnya?

Duh! dalam ujian, gak sadar gue udah terlalu jauh melamun, dan didepan gue masih terpampang lembar jawaban yang terisi belum ada separuh dari soal. Seiring hembus angin dingin dari AC yang udah ditemukan dimana 'remote'nya, otak gue juga mulai dingin mencari jawaban-jawaban yang tersimpan setelah semalam semua kata-katanya udah terekam, tersemayam untuk diungkapkan. Gue gak mau menjadi insinyur abal-abal yang tak bisa mengikuti hebatnya persaingan di dunia luar.
Kalau ujian yang kayak gini aja gak bisa gue kerjain, gimana nanti gue bisa ngadepin ujian-ujian lain dalam kehidupan setelah wisuda dilaksanakan dan gelar tersematkan?

 BUAT GUE, "...." DALAM SEMESTER INI ADALAH "SEMESTER 8". SEMANGAT!

Si 'Warna-warni' yang Kian Sepi

| Selasa, 20 Desember 2011
Aktifitas sebuah kota, baik di kota besar atau kecil tak lepas dari angkutan kota, biasa dikenal dengan ‘angkot’. Sebuah sarana penunjang mobilitas, sarana perjalanan para penduduknya dalam segala aktifitas. Namun, justru alih-alih mobilitas juga yang kini perlahan menggerus keberadaannya, juga penumpangnya. Mereka yang bermobil seolah terbuai kenyamanan dan dinginnya AC mobil. Mereka yang bersepeda motor juga terbuai dengan kebebasan dan kelihaiannya meliuk-liuk. Namun, diantara keduanya terselip juga sebuah kendaraan, yang mencolok, yang berwarna warni, yang kini kian sepi, ya! Angkot itu sendiri.

Jujur saja gue awalnya termasuk golongan yang tak peduli, dan justru mencaci keberadaannya. Mencaci kelakuan supirnya yang berhenti seketika dan seenaknya. Gue juga sedang terbuai dengan kebebasan dan kelihaian, kelincahan sepeda motor, bahkan kenyamanan mobil.
Namun, pagi tadi ketika ga sengaja gue selip laju angkot yang kian lambat, kian ingin mendapat cacian. Iba muncul dalam diri dimana hanya satu dua gelintir penumpang didalamnya. Sang Kenekpun terlihat memegang duit beberapa ribuan tipis dan belum membentuk tumpukan. Muka sabarnya melebihi muka anak kost yang kehabisan duit di tanggal tua, sabar menunggu penumpang melambaikan tangan di pinggir jalan, sabar duduk di kursi kecilnya dalam kesepian penumpang. Mungkin dia ga tahu mereka para penumpang sedang asyik di mobil barunya, atau motor kreditannya. Iming-iming perusahaan leasing sekarang semakin menggila, dimana-mana terpampang propagandanya. “Hanya dengan 2 juta, bisa bawa pulang mobil atau motor”. Saya takut jika propaganda seperti itu juga dilakukan di instansi pendidikan. “Hanya dengan 2 juta bawa pulang ijazah”. Ribet juga kan jadinya. Seakan kita diajari untuk bisa membeli tetapi kita tak diajari untuk bisa berbagi.

Dibalik semua itu, supir angkot adalah orang yang paling awal berangkat dan paling akhir pulang. Berangkat di pagi buta dan pulang hingga petang menjelang. Bau di dalam angkot pun ikut berputar seperti mengalami siklus, dari bau ikan para penjual ikan, bau parfum labil anak sekolahan sampai bau keringat para penumpang yang lelah bekerja, seperti itu juga sampai besoknya. Ketika sampai di rumah, mungkin saja mereka si supir angkot mendapati anaknya yang sudah tidur, sejak belum bangun sampai tidur kembali. Gue harap Tuhan selalu memberi keberkahan kepada mereka.

Berbeda dengan kendaraan bermotor yang semakin padat, namun rasio perkembangan jalan tak sepadan. Angkot, terutama yang berwarna-warni sepertinya tak mungkin plat nomornya akan berakhiran 3 huruf, seperti mobil dan motor yang semakin menggila keberedaannya di kota-kota besar. Bertambah semakin banyak juga propaganda-propaganda yang menempel pada angkutan umum. Kadang khayalan konyol gue berpikir dan bertanya, berapa harga yang harus dibayar untuk mempropagandakan nama orang tersayang.  Pasti keren namanya terpampang di setiap perjalanan. *meringis*

Ngomongin soal plat nomor, lagi-lagi gue teringat almarhum ‘papah’ gue. Dimana setiap mobil yang beliau gambar pasti diberi plat nomor nama gue – D 1 4 N. Namun gue selalu nambahin huruf Y di tengahnya. Dan dengan senyum bersahajanya ‘papah’ gue selalu menerangkan bahwa ga boleh ada huruf di tengah plat nomor. Dan sekarang perkembangan 3 huruf di belakang plat nomor sangat mendukung impian gue sejak kecil, mobil gue nantinya bisa gue kasih plat nomor D 1 YAN. Keren dan agak mahal sepertinya. Amien saja, semoga.

‘Papah’ gue adalah ahli gambar nomor satu menurut gue. Busnya pun beliau sendiri yang mendisain, dan hasil dari olah software disain di sebuah perusahan karoseri di Ungaran, Semarang, yang sudah jadi ternyata kalah, hanya menang pewarnaan dan terlihat lekukan cirikhas software semacam AUTOcad. Setiap gue melihat gambar rumah atau mobil yang keren, gue pasti meminta ‘papah’ buat ngegambarin. Esoknya waktu dilihat temen-temen di sekolah, sekolah dasar tepatnya, dengan bangga gue bilang itu karya gue dan selalu ngeles tiap didaulat menggambar serupa. Hmmm, kesombongan di masa kecil yang indah.

Kembali soal si ‘warna-warni’, secara teori mereka diciptakan untuk mengatasi kemacetan dan mengakomodir perjalanan penduduk. Mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Karena kembali lagi soal kapasitas, jalan tak seimbang dengan kendaraan. Sudah ada juga kota-kota yang divonis akan mengalami KEMACETAN TOTAL pada beberapa tahun kedepan. Awalnya ketika dalam macet bisa dengerin 1 lagu, sekarang bisa sampai 1 album, gawat lagi kalo bisa 1 DVD, atau 1 memory card 16GB. Mungkinkah? Who knows.

Andai saja mereka yang nyaman menggenggam setir mobil, mengalihkan genggamannya pada gantungan-gantungan bis kota. Mereka yang nyaman dengan gas dan pedal rem beralih mengayuh pedal sepeda dengan bel ‘kring-kring’nya. Untuk perjalanan dalam kota, sepertinya bukan hal yang mustahil dilakukan. Andai juga jika para maling, copet, dan pengamen tak bermoral, bahkan pemerkosa di angkutan umum mengalihkan profesinya, syukur lagi kalau bertaubat lalu mengisi setiap surau dengan pengajian di kampung mereka. Bisa saja lagu yang sampai satu album tersebut, tanpa lanjut ke lagu berikutnya, sebelum melewati reff,kita sudah bisa lepas dari kemacetan. Melewati jalanan penuh pepohonan nan hijau rindang yang bebas banjir ketika hujan lebat. Jalanan yang rapi, jalanan yang ga ada saling serobot ga karuan di dalamnya.

Semoga ini semua bukan sekedar mimpi dan angan belaka ya, semoga.




 Mungkin tempelan propaganda pada angkot mereka bisa mengatasi pusing kepala mereka ketika sepi penumpang, hmmm...
 

Copyright © 2010 WAKE UP AND SEE